Inayah Nurcahyani

Saturday, October 21, 2017

Masalah Ketenagakerjaan Tugas Ekonomi
October 21, 20170 Comments


1.  Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No 13 Tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukkan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masayarakat.
2.     Angkatan Kerja
Angkatan kerja adalah penduduk berumur lima belas tahun ke atas yang selama seminggu sebelum pencacahan bekerja atau mempunyai pekerjaan,sementara tidak bekerja dan mereka tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan.
      3. Kesempatan Kerja
       Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Dalam ilmu ekonomi, kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua sanggup bekerja.
4. Jenis-jenis Tenaga Kerja                               
a. Tenaga Kerja Terdidik/tenaga ahli/tenaga mahir
Adalah yang mendapatkan suatu keahlian atau kemahiran pada suatu bidang karena sekolah/pendidikan formal dan nonformal. Contohnya Insinyur, Dokter, dll.

b. Tenaga kerja terlatih
adalah yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu yang diperoleh melalui pengalaman kerja.Contohya Supir, Pelukis,montir dll.

c. Tenaga Kerja tidak terdidik dan tidak terlatih
adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan tenaga saja.Contohnya Kuli, Buruh angkut, dll.

5. Upaya peningkatan kualitas tenaga kerja
a. Jalur formal, seperti sekolah umum, sekolah kejuruan dan kursus-kursus.
b. jalur non formal :
1. Latihan kerja,adalah kegiatan untuk melatih agar memiliki keahlian dan keterampilan di bidang tertentu.
2. Magang, adalah latihan kerja yang dilakukan langsung ditempat kerja.
3. Meningkatkan kualitas mental dan spiritual tenaga kerja
.
B. Sistem Upah
Upah merupakan kompensasi atau balas jasa yang diberikan kepada pekerja karena telah memberikan tenaga kepada perusahaan. Sistem upah yang bisa digunakan untuk menghitung upah kerja antara lain :
1. Sistem Upah menurut waktu yakni pemberian upah berdasarkan waktu lama bekerja dari bekerja.
2. Sistem Upah menurut prestasi yakni pemberian upah berdasarkan jumlah barang yang dihasilkan pekerja.
3. Sistem Upah borongan yakni pemberian upah berdasarkan kesepakatan pmberian kerja dan pekerja.
4. Sistem upah premi yakni pemberian upah dengan mengombinasikan system upah prestasi yang ditambah dengan premi tertentu.
5. Sistem upah partisipasi yakni pemberian upah khusus berupa sebagian keuntungan perusahaan pada akhir tahun.
6. Sistem upah mitra usaha yakni pemberian upah seperti system upah dalam bentuk saham atau obligasi.
7. Sistem upah indeks yakni pemberian upah berdasarkan pada besarnya biaya hidup.
8. Sistem upah skala berubah yakni pemberian upah berdasarkan skala hasil penjualan yang berubah-ubah.
9. Sistem upah produksi yakni pemberian upah berdasarkan naik turunnya jumlah produksi secara keseluruhan.
C. Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali,sedang mencari kerja, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak.
1. Macam Pengangguran
a). Macam pengangguran berdasarkan lama waktu kerja.
     1). Pengangguran terbuka, yakni tenaga kerja yang benar-benar tidak memiliki pekerjaan sama sekali.
     2). Setengah menganggur, yakni tenaga kerja yang bekerja, tetapi tidak optimal.
     3). Pengangguran terselubung, yakni tenaga kerja yang    bekerja tetapi tidak sesuai dengan latar belakang/pendidikannya.
b). Macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya.
      1). Pengangguran structural, yakni pengangguran yang disebabkan oleh terjadinya perubahan struktur perekonomian.
      2). Pengangguran konjungtural, yakni disebabkan oleh pergerakan naik turunnya kegiatan ekonomi.
      3). Pengangguran Friksional, yakni disebabkan oleh pergeseran pekerja yang ingin mencari pekerjaan yang lebih bagus.
      4). Pengangguran Musiman, yakni pengangguran yang disebabkan oleh perubahan musim/ perubahan permintaan tenaga kerja secara berkala.
2. Penyebab Pengangguran
1). Tekanan demografis
2). Pertumbuhan Ekonomi
3). Jumlah lapangan kerja yang tersedia kurang
4). Kurang efektifnya informasi
5). Terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK)
3. Dampak Pengangguran
a. Menurunkan aktivitas perekonomian
b. Menurunkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita
c. Meningkatkan biaya sosial
d. Menurunkan tingkat keterampilan
e. Menurunkan penerimaan negara.
4. Cara mengatasi pengangguran
1. Meningkatkan mobilitas
2. Meningkatkan daya beli masyarakat
3. Mendirikan industry padat karya
4. Memberikan keterampilan bidang lain.
Reading Time:
Contoh Karya Tulis Ilmiah Kasus Buruh Marsinah
October 21, 20170 Comments


KARYA TULIS ILMIAH

“KASUS BURUH MARSINAH”


DISUSUN OLEH :

 
INAYAH NURCAHYANI


KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah merupakan satu kata yang pantas diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang karena Bimbingan – Nya maka kami dapat menyelesaikan sebuah karya tulis ilmiah dengan judul “Kasus nenek marsinah”
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi kasus dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah yang dapat di pertanggung jawabkan hasilnya. Saya ucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar dalam makalah ini. Oleh karena itu kritik dan sarn dari pembaca yang bersifat membangun sangat saya harapkan
Terima kasih dan Semoga Makalah ini dapat memberikan sumbangan positif bagi kita semua.



                                                                                                    Bengkulu, 22 oktober 2016

 

                                                                                                      Tim Penulis







DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………………………………………i
Kata Pengantar……………………………..………………………………………………………… ii
Daftar isi ………………….…………………………………………………………………………… iii
Bab 1
Pendahuluan……………….……………………………………………………………………………1
Latar Belakang……………………………………………………………………………………… 1
Rumusan Masalah……………………..……………………………………………………………2
Tujuan…………….………………………….……………………………………………………….3
Manfaat……….……………………………….…………………………………………………….4
Bab 2
Pembahasan……………..……………………………………………………………………………… 5
Mengenal Siapa dan Kehidupan Marsinah…………………………………………………………..5
Penyelidikan khusus pada Kasus Marsinah……………………………..………………………………. 6
Penemuan Komnas HAM pada Kasus Marsinah……………………………………………… 7
Dasar Hukum Pelanggaran HAM pada Kasus Marsinah…………………………….…………………8
Bab 3
Penutup…………………………………………………………………………………………………………. 9
Kesimpulan…..………………………………………………………………………………………… 10
Saran…………………………………………………………………………………………………… 11
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………… 12




BAB 1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
             Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya)—pabrik tempat kerja Marsinah—resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Sudar Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Pengurus PUK-SPSI PT. CPS mengadakan pertemuan di setiap bagian untuk membicarakan kenaikan upah sesuai dengan himbauan dalam Surat Edaran Gubernur.
       Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.
       Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.
       Aparat dari koramil dan kepolisian sudah berjaga-jaga di perusahaan sebelum aksi berlangsung. Selanjutnya, Marsinah meminta waktu untuk berunding dengan pengurus PT. CPS. Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan tersebut, sebagaimana dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat menyuarakan tuntutan. Dialah satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang melelahkan tercapailah kesepakatan bersama.
       Namun, pertentangan antara kelompok buruh dengan pengusaha tersebut belum berakhir. Pada tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa dasar atau alasan yang jelas, pihak tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama.
       Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Marsinah marah saat mengetahui perlakuan tentara kepada kawan-kawannya. Selanjutnya, Marsinah mengancam pihak tentara bahwa Ia akan melaporkan perbuatan sewenang-wenang terhadap para buruh tersebut kepada Pamannya yang berprofesi sebagai Jaksa di Surabaya dengan membawa surat panggilan kodim milik salah seorang kawannya. Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 9 Mei 1993

2. RUMUSAN MASALAH
Secara umum, rumusan masalah  pada “Kasus Marsinah” ini dapat dirumuskan seperti pada pertanyaan berikut :

1).  Siapakah Marsinah itu?

2). Bagaimana Penyelidikan Kematian Marsinah?

3). Apa yang ditemukan oleh komnas HAM?

4). Apa saja Dasar hukum kasus pelanggaran HAM Marsinah?

3. TUJUAN
1.Bagi Penulis
Karya tulis ilmiah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh guru dalam mata pelajaran sejarah. Lalu, bagi kami karya tulis ilmiah ini juga  bisa digunakan untuk menambah pengetahuan bagi pelajar, baik dalam belajar maupun kehidupan.
2. Bagi Pembaca
Karya tulis ilmiah ini dimaksudkan untuk membahas Kasus pelanggaran HAM yaitu kematian sadis Marsinah dan menambah ilmu pengetahuan mengenai HAM. Pembaca bisa juga menggunakan karya tulis ilmiah ini untuk langkah menuju kehidupan yang lebih baik, sehingga kedepannya tercipta sumber daya manusia yang unggull
3.Bagi Masyarakat
Supaya masyarakat bisa lebih memahami tentang arti pelanggaran HAM sehingga dampak negatif yang sudah ada bisa lebih di tinggalkan. Dan juga diharapkan agar realisasi kegiatan positif terhadap adanya pendidikan moral yang semakin lebih baik.
4. MANFAAT
Supaya bisa menambah wawasan tentang pemahaman pelanggaran ham yang berat.  Lalu, bisa juga menjadi pelajaran bagi semua orang bahwa kita sebagai masyarakat harus taat pada peraturan yang akhirnya jadi pagar sekaligus semangat untuk lebih serius dan berkembang.



BAB 2
Pembahasan
5. Mengenal Siapa dan Kehidupan Marsinah
Marsinah lahir tanggal 10 April 1969. Anak nomor dua dari tiga bersaudara ini merupakan buah kasih antara Sumini dan Mastin. Sejak usia tiga tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya—Pu’irah—yang tinggal bersama bibinya—Sini—di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.
Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5  Nganjuk. Sedari kecil, gadis berkulit sawo matang itu berusaha mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil.
Di lingkungan keluarganya, ia dikenal anak rajin. Jika tidak ada kegiatan sekolah, ia biasa membantu bibinya memasak di dapur. Sepulang dari sekolah, ia biasa mengantar makanan untuk pamannya di sawah. “Dia sering mengirim bontotan ke sawah untuk saya. Kalau panas atau hujan, biasanya anak itu memakai payung dari pelepah pisang,” kenang Suradji, pamannya Marsinah sambil menerawang. Berbeda dengan teman sebayanya yang lebih suka bermain-main, ia mengisi waktu dengan kegiatan belajar dan membaca. Kalaupun keluar, paling-paling dia hanya pergi untuk menyaksikan siaran berita televisi.
Ketika menjalani masa sekolah menengah atas, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama menjadi murid SMA Muhammadiyah, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas. Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Jalan hidupnya menjadi lain, ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. “Dia ingin sekolah di IKIP. Tapi, uang siapa untuk membiayai di perguruan tinggi itu,” ujar kakek Marsinah.
Pergi meninggalkan desa adalah sebuah langkah hidup yang sulit terelakan. Kesempatan kerja di pedesaan semakin sempit. Kerja sebagai buruh tani makin kecil peluangnya. Sekarang ani-ani—alat tradisional penuai padi—sudah berganti dengan sabit yang lebih efisien dan tidak memerlukan jumlah tenaga kerja sebanyak sebelumnya. Perkembangan teknologi semakin menyingkirkan para buruh tani. Tidak mengherankan, bau keringat bercampur tanah sawah sudah tidak lagi memenuhi udara pedesaan. Lenguhan sapi yang kelelahan membajak tanah semakin jarang terdengar. Ia telah disingkirkan oleh deru mesin traktor.
Ujungnya adalah tidak ada pilihan lagi selain pergi ke kota. Maka ia berusaha mengirimkan sejumnlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto, dan gresik. Akhirnya ia diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989. setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri, sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.
Kegagalan meneruskan ke perguruan tinggi bukannya membuat semangat belajarnya padam. “Mbak Marsinah berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang,” ujar salah seorang temannya. Karena itu, untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, Marsinah mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Kursus komputer dengan paket Lotus dan Word Processor sempat dirampungkan beberapa waktu sebelum ia meninggal.

         Semangat belajar yang tinggi juga tampak dari kebiasaannya menghimpun rupa-rupa informasi. Ia suka mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi. Minat bacanya juga tinggi. Saking senangnya membaca, ia terpaksa memakai kacamata. Pada waktu-waktu luang, ia seringkali membuat kliping koran. Malahan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untukmembeli koran dan majalah bekas, meskipun sebenarnya penghasilannya pas-pasan untuk menutup biaya hidup.
          Ia dikenal sebagai seorang pendiam, lugu, ramah, supel, tingan tangan dan setia kawan.
Ia sering dimintai nasihat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawannya. Kalau ada kawan yang sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk. Selain itu ia seringkali membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Ia juga dikenal sebagai seorang pemberani.

6. Penyelidikan Khusus Pada Kasus Marsinah
       Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.
       Delapan petinggi PT CPS (Yudi Susanto, 45 tahun, pemilik pabrik PT CPS Rungkut dan Porong; Yudi Astono, 33 tahun, pemimpin pabrik PT CPS Porong; Suwono, 48 tahun, kepala satpam pabrik PT CPS Porong; Suprapto, 22 tahun, satpam pabrik PT CPS Porong; Bambang Wuryantoyo, 37 tahun, karyawan PT CPS Porong; Widayat, 43 tahun, karyawan dan sopir di PT CPS Porong; Achmad Sutiono Prayogi, 57 tahun, satpam pabrik PT CPS Porong; Karyono Wongso alias Ayip, 37 tahun, kepala bagian produksi PT CPS Porong) ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari, 26 tahun, selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah.
       Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.
       Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI. Pasal yang dipersangkakan Penyidik Polda Jatim terhadap para tersangka dalam Kasus Marsinah tersebut antara lain Pasal 340 KUHP, 255 KUHP, 333 KUHP, hingga 165 KUHP jo Pasal 56 KUHP.
       Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.
       Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni) Jaksa / Penuntut Umum. Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah "direkayasa".










7. Temuan Komnas HAM
       Tim Komnas HAM dalam penyelidikan awal melihat ada indikasi keterlibatan tiga anggota militer dan seorang sipil dalam kasus pembunuhan Marsinah. Salah satu anggota Komnas HAM Irjen Pol. (Purn) Koesparmono Irsan mengemukakan, agar kasus itu bisa terungkap harus ada keterbukaan semua pihak dengan berlandaskan hukum, bukan masalah politik. Ia beranggapan, jika masalah itu dibuka secara tuntas maka kredibilitas siapa saja akan terangkat. "Yang jelas Marsinah itu dibunuh bukan mati dhewe, tentu ada pelakunya, mari kita buka dengan legawa. Makin terbuka sebetulnya kredibilitas siapa saja makin terangkat. Tidak ada keinginan menjelekkan yang lain," katanya.

            Ia mengakui bahwa kasus yang sudah terjadi tujuh tahun lalu itu hampir mendekati kedaluwarsa untuk diproses secara hukum. Kendala yang dihadapi kepolisian saat ini adalah masalah pengakuan dari semua pihak. "Mau nggak mengakui sesuatu yang memang terjadi. Makanya saya kembalikan, mari tegakkan hukum, jangan politiknya. Kalau hukum itu 'kan tidak mengenal Koesparmono, atau pangkatnya apa, tetapi yang ada adalah orang yang melakukan. Kalau ini dibawa ke suatu arena politik yang ada solidaritas politik," katanya.
       Temuan lain Komnas HAM yaitu dalam proses penangkapan dan penahanan para terdakwa dalam Kasus Marsinah itu melanggar hak asasi manusia. Bentuk pelanggaran yang disebutnya bertentangan dengan KUHAP itu, antara lain, adanya penganiayaan baik fisik maupun mental. Komnas HAM mengimbau, pelaku penganiayaan itu diperiksa dan ditindak.

8. Dasar Hukum Pelanggaran HAM Kasus Marsinah
A. Dasar Yuridis
a. Pasal 1 butir ke-1 UU No. 39 tahun 1999
    Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan        
    keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
    anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,   
    hukum dan Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan   
    harkat dan martabat manusia.
b.  Pasal 1 butir ke-6 UU No. 39 tahun 1999
     Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau   
     kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja,
     atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi,
     membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok
     orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau
     dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan   
     benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
c.  Pasal 9 butir ke-1 UU No. 39 tahun 1999
    Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan    
    taraf kehidupannya.

BAB 3
9. PENUTUP
Demikianlah  yang  dapat  saya  sampaikan  mengenai  materi  yang  telah  menjadi  bahasan  dalam  karya tulis ilmiah   ini. Tentu  juga  karya tulis ilmiah  ini  banyak  kesalahan karena  terbatasnya   pengetahuan  kami (penulis) serta rujukan atau  referensi  yang kami (penulis)  peroleh. Kami  berharap kritik dan saran yang bersifat membangun dan lugas dari pembaca untuk kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah  ini bermanfaat bagi pembaca.

10. KESIMPULAN
Marsinah adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Perkasa yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggul Angin Sidoarjo. 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.
4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan.
Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS.
Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.

11. SARAN
Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan Jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain. Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan HAM orang lain.










12. DAFTAR PUSTAKA

http://muko-simbolon.blogspot.co.id/2012/12/masalah-kasus-marsinah.html
http://www.kompasiana.com/asrinayuni/kasus-marsinah_54f5d2f2a33311d6508b45b4
Reading Time:
ANALISIS CERPEN  “Lomba Tenis Meja”
October 21, 20170 Comments


ANALISIS CERPEN
“Lomba Tenis Meja”


OLEH
INAYAH NURCAHYANI
    


ANALISIS CERPEN YANG BERJUDUL “LOMBA TENIS MEJA”

A.    TEMA
Tema cerita tersebut adalah tentang persaingan yang tidak sehat.

B.     TOKOH dan KARAKTERNYA
1.      Pak Rosid
a.       Guru olahraga yang perhatian, sopan, tegas, pemarah dan adil.
Kutipan yang mendukung :
     Seusai jam sekolah, Pak Rosid pergi ke rumah Firman untuk menjenguk keadaan Firman.
     “Assalamualaikum,....” Pak Rosid mengucapkan salam.
    “Kamu tidak perlu mungkir, Bapak punya bukti dan saksi yang kuat. Apakah perlu Bapak panggil orang yang menyaksikan kejadian ketika kamu menyerempet Firman?” tanya Pak Rosid semakin tegas.
    “Seandainya, Bapak mengatakannya, akan kamu apakan orang itu? Kamu juga akan mencelakainya?” tanya Pak Rosid dengan nada marah.
     Sebagai hukumannya, kamu tidak boleh mengikuti pelajaran olahraga sebanyak tiga kali dalam bulan ini. Kamu juga harus membuat kliping tentang olahraga setebal tiga puluh halaman. Kamu juga harus minta maaf kepada Firman karena kecerobohanmu itu,” kata Pak Rosid dengan jelas dan tegas.

2.      Firman
a.       Siswa yang rendah hati, pemaaf dan senang membantu orang lain.
Kutipan yang mendukung :
         Mula-mula Firman ragu karena ia merasa tidak mampu dan kurang berprestasi di sekolah. Akan tetapi, setelah didesak oleh Pak Rosid, akhirnya dia mau dan siap berlatih setiap sore.
      “Iya, Ga, aku sudah memaafkanmu dan alhamdulilah sekarang aku sudah sehat dan dapat sekolah lagi. Oh....ya,katanya kamu mendapat tugas untuk membuat kliping tentang olahraga. Kalau kamu mau, aku memiliki banyak artikel berita tentang olahraga dan kamu boleh menggunakannya untuk membuat kliping itu,” kata Firman kepada Yoga.

                                                                                                               


3.      Yoga
a.       Siswa yang memiliki sifat iri hati, jahat, sombong, dan dendam.
Kutipan yang mendukung :
Begitu mendengar bahwa Firman juga akan diikutkan lomba, muncul rasa tidak senang dalam hati Yoga.
“Wah, ternyata aku sudah ada saingan. Firman itu bisa apa, sih, kok diikutkan lomba tenis meja?” gerutu Yoga dalam hati.
Dalam setiap latihan, Yoga selalu dikalahkan oleh Firman sehingga ia semakin benci dan iri kepada Firman. Dalam hati, Yoga muncul niat kurang baik kepada Firman.
“Aku selalu kalah saat berlatih melawan Firman, bisa –bisa ia yang akan dipilih Pak Rosid untuk mengikuti lomba tenis meja itu. Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan Firman,”kata Yoga dalam hati.
Pada suatu siang, Firman pulang sekolah dengan sepeda bututnya. Ia pulang bersama Dimas. Tiba-tiba dari arah belakang Yoga menyerempet sepeda yang dinaiki Firman hingga Firman terjatuh dan tangan kanannya terkilir. Bukannya menolong Yoga malah terus pergi meninggalkan Firman yang ditabraknya.
b.      Terkadang orang yang jahat juga bisa mengakui dan sadar atas kesalahannya.
Kutipan yang mendukung :
Hal pertama yang dilakukan Yoga sepulang sekolah adalah pergi ke rumah Firman. Ia segera minta maaf atas kesalahannya.
4.      Dimas
a.       Teman Firman yang baik, suka menolong, perhatian,rendah hati,sopan dan jujur.
Kutipan yang mendukung :
Dimas yang waktu itu bersama Firman, segera menolong Firman.
Sementara itu, di rumah Firman, Dimas sedang menjenguknya. Ia membawa sedikit oleh-oleh untuk Firman.
“Baiklah Firman, biar nanti aku yang menyampaikan kepada Pak Rosid. Kamu lebih baik istirahat saja di rumah,” kata Dimas menyarankan Firman.
“Maaf, Pak Rosid, bolehkah saya menyampaikan sesuatu kepada Bapak?” tanya Dimas dengan rendah hati.
“Begini, Pak, sebenarnya Firman tidak dapat mengikuti lomba tenis meja mewakili sekolah ini karena ia sedang sakit. Beberapa hari yang lalu, ketika sedang pulang sekolah dengan saya, dia diserempet Yoga hingga Firman terjatuh dan sepedanya menimpa tubuhnya. Tangan kanannya juga terkilir. Jadi, tangannya tidak bisa digunakan untuk bermain tenis meja,” kata Dimas dengan hati-hati.

5.      Ibu penghuni rumah (Ibu Firman yang bernama Saidah)
a.       Sopan
Kutipan yang mendukung :
“oh... iya, Pak, silahkan masuk. Perkenalkan, nama saya Saidah Ibunya Firman. Sebentar, saya panggilkan Firman, “kata Ibu Firman kepada Pak Rosid.”

6.      Anak-anak SMP Taruna Jaya

C.     SETTING/LATAR
a.       Latar tempat :
1.      Di depan papan pengumuman.
2.      Di kecamatan karang jati
3.      Di sekolah ini
4.      Di gedung olahraga Kecamatan Karang Jati
5.      Di rumah Firman
6.      Di meja
7.      Menuju ruang guru
8.      Kembali ke kelas
9.      Keluar dari ruang guru

b.      Latar waktu :
1.      Selama tiga hari
2.      Tinggal dua minggu
3.      Pada hari itu juga
4.      Mulai nanti sore
5.      Pada suatu siang
6.      Dari arah belakang
7.      Waktu itu
8.      Setiap sore
9.      Tinggal dua hari
10.  Pada hari berikutnya
11.  Besok pagi
12.  Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba
13.  Tepat pukul 8.00 pertandingan dimulai
14.  Pada awal pertandingan
15.  Pada babak-babak terakhir
16.  Sampai akhir perlombaan
17.  Besok lusa
18.  Baru saja
19.  Tiba-tiba datang
20.  Ketika sedang pulang sekolah
21.  Sekarang
22.  Seusai jam sekolah
23.  Selamat pagi
24.  Kemarin
25.  Hal pertama
26.  Hari itu

c.       Latar suasana
1.      Ragu-ragu
2.      Gembira / riang
3.      Malu
4.      Menyesal
5.      Marah
   
D.    PESAN / AMANAT
1.      Sebagai siswa, haruslah taat kepada perintah guru selagi positif.
2.      Kita tidak boleh sombong dengan kemampuan kita.
3.      Tidak boleh iri hati, atau benci kepada teman.
4.      Haruslah tolong menolong jika teman membutuhkan pertolongan kita.
5.      Janganlah meremehkan kemampuan orang lain.
6.      Haruslah percaya diri.
7.      Harus bisa mengambil keputusan yang tepat, dengan bijaksana dana adil.
8.      Jika ada salah, segeralah untuk meminta maaf dan saling memaafkan .
9.      Tidak boleh mencelakai teman sendiri.
10.  Jagalah persahabatan dengan berbuat baik.

E.     ALUR / JALAN CERITA
   
Cerpen diatas menggunakan alur maju.Dimulai dengan cerita pertama kali diumumkan adanya lomba tenis meja antar sekolah sampai selesai pertandingan.
-Pada hari itu juga,Yoga menghadap Pak Rosid untuk mendaftarkan diri mengikuti lomba tenis meja itu.
-Pada hari berikutnya,Pak Rosid memutuskan bahwa yang akan diikutkan lomba tenis meja mewakili SMP Taruna Jaya adalah Yoga.
-Tibalah saatnya Yoga berlaga melawan pemain-pemain dari sekolah lain.
-Perlombaan telah usai,Pak Rosid,Yoga,dan siswa-siswa lain yang menjadi supporter kembali ke sekolah.
F.  Sudut pandang
Sudut pandang pengarang dalam cerpen tersebut adalah bahwa pengarang sebagai orang ketiga.Ia menceritakan kehidupan tokoh utama dengan menyebut namanya.
Firman orang pertama pelaku utama.
Yoga orang pertama pelaku sampingan.
Pak Rosid orang pertama pelaku sampingan.
Dimas orang ketiga serba tau.
Ibu Saidah orang ketiga sebagai pengamat.














   DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................
Tema dan tokoh dan karakter..........................................................1
Tokoh dan karakter ....................................................................... 2
Setting.............................................................................................3
Setting dan Pesan/amanat, alur.......................................................4 
Sudut Pandang................................................................................5
Reading Time:

Privacy Police

theme